BOJONEGORO, Linknews.id – Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 resmi ditutup Sabtu (20/6/2026) sore di Alun-Alun Bojonegoro, bukan hanya sebagai perayaan budaya tahunan, tetapi sebagai bukti empiris bahwa festival wastra mampu menjadi katalisator ekonomi kreatif yang terukur. Gelaran keempat hari ini mencatatkan total pendapatan gabungan sektor akomodasi dan pameran mencapai Rp 1,4 miliar, menegaskan posisi batik sebagai aset produktif yang menopang ambisi Bojonegoro menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Wakil Bupati Nurul Azizah menekankan bahwa BWBF telah bertransformasi dari event seremonial menjadi ekosistem bisnis yang inklusif. Kolaborasi antara perajin lokal, pedagang, dan pelaku UMKM luar daerah membuktikan bahwa festival ini berfungsi sebagai pasar nyata, bukan sekadar panggung simbolis. "UMKM benar-benar turut serta dan ada kolaborasi konkret dengan para perajin. Ini adalah kontribusi langsung Pemkab agar mereka naik kelas," ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Elzadeba Agustina merinci dampak multiplier effect yang tercipta selama empat hari pelaksanaan. Dari 69 stand yang berpartisipasi, 60 stand indoor berhasil meraup omzet Rp 1,063 miliar. Sementara itu, sektor akomodasi mencatatkan 162 tamu menginap di 10 hotel dan guest house dengan pendapatan Rp 175 juta dan kontribusi pajak hotel Rp 17,5 juta. Angka-angka ini menjadi indikator bahwa pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan secara berkelanjutan.
Aspek kompetitif BWBF tahun ini juga mencerminkan kematangan industri batik di Jawa Timur. Exxon Mobil Cepu Limited meraih Juara 1 Stand Terbaik, menandakan masuknya sektor energi sebagai pendukung aktif ekonomi kreatif berbasis budaya. Pemerintah Kabupaten Jember menempati posisi kedua, sementara Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri meraih juara ketiga. Keberhasilan peserta dari luar Bojonegoro menunjukkan bahwa festival ini telah menjadi barometer kualitas dan daya saing wastra tingkat regional.
Elzadeba menambahkan bahwa momentum BWBF sangat strategis mengingat Bojonegoro saat ini sedang dalam tahap validasi UGGp. Aspek budaya, khususnya kearifan lokal yang tercermin dalam wastra, menjadi salah satu pilar penilaian utama oleh tim internasional. "Festival ini meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap batik sekaligus memperluas jangkauan pasar produk turunan. Ini adalah investasi bagi identitas Bojonegoro sebagai geopark yang kaya akan tradisi," jelasnya.
Penutupan BWBF 2026 mengirimkan sinyal jelas kepada pemangku kepentingan: keberhasilan sebuah festival budaya tidak lagi diukur dari jumlah pengunjung semata, melainkan dari kontribusinya terhadap rantai nilai ekonomi, penguatan kapasitas UMKM, dan legitimasi internasional. Dengan fondasi yang semakin kokoh, Bojonegoro melangkah lebih percaya diri dalam mewujudkan visi pembangunan yang memadukan pelestarian warisan leluhur dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (KOM/RED)