BOJONEGORO, LINKNEWS.id – Kreativitas dan inovasi dinilai menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Mahasiswa pun didorong tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono saat menjadi pemateri dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) IKIP PGRI Bojonegoro 2026, Senin (31/8/2026).
Di hadapan mahasiswa baru yang mengenakan atribut khas Obor Sewu di Aula IKIP PGRI Bojonegoro, Cantika mengajak generasi muda mulai melihat kreativitas sebagai sesuatu yang dapat memiliki nilai ekonomi.
“Kita membutuhkan kreativitas, ide, dan karya yang memiliki nilai ekonomi. Kita tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mencari pekerjaan, tetapi juga orang-orang yang mampu menciptakan pekerjaan,” kata Cantika.
Menurut dia, ekonomi kreatif tidak sebatas menghasilkan sebuah produk. Di dalamnya terdapat proses mengolah ide, pengetahuan, kreativitas, dan inovasi sehingga menghasilkan nilai tambah.
Beragam bidang, kata Cantika, dapat dikembangkan melalui sektor tersebut, mulai dari fesyen, seni dan budaya hingga teknologi. Potensi itu semakin terbuka seiring perkembangan teknologi digital yang memungkinkan produk lokal menjangkau konsumen lebih luas.
Potensi Lokal Jadi Peluang Ekonomi
Cantika meminta mahasiswa tidak memandang Bojonegoro hanya sebagai daerah dengan pasar lokal. Menurut dia, berbagai produk yang lahir dari daerah memiliki kesempatan untuk menembus pasar nasional hingga mancanegara.
“Produk-produk lokal kita banyak yang bisa kita temui di Jakarta bahkan di luar negeri. Meskipun lokasi kita berada di Bojonegoro, pasar kita adalah pasar global,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak mahasiswa mengenali kembali kekayaan yang dimiliki daerah. Batik khas Bojonegoro, kerajinan berbasis budaya lokal, hingga kuliner seperti Dawet Ireng disebut sebagai contoh potensi yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif.
Potensi tersebut, lanjutnya, tidak hanya berasal dari produk. Sejarah dan kebudayaan Bojonegoro juga dapat menjadi sumber gagasan untuk melahirkan karya maupun produk kreatif.
Cerita rakyat, kisah Angling Dharma, Mliwis Mukti, serta potensi geopark dinilai dapat dikemas menjadi berbagai produk dan pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi.
Demikian pula dengan kekayaan geologi Bojonegoro, termasuk sejarah dan karakteristik minyak bumi yang menjadi bagian dari identitas daerah. Sejumlah destinasi wisata seperti Kayangan Api dan berbagai lokasi wisata yang belum banyak dikenal juga dinilai memiliki ruang untuk dikembangkan.
“Kita memiliki banyak potensi. Tinggal bagaimana kita mampu melihat, mengolah, dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang bernilai,” kata Cantika.
Jangan Takut Gagal
Di hadapan mahasiswa baru, Cantika juga mengingatkan pentingnya keberanian mencoba. Ia meminta mahasiswa tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti mengembangkan gagasan.
Menurut dia, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengevaluasi proses, berkembang, dan menghasilkan dampak positif.
“Jangan takut gagal, karena di dalam prosesnya selalu ada pembelajaran. Kita bertumbuh dan berkembang bersama, dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memberikan dampak,” tuturnya.
Cantika juga menekankan pentingnya membangun karakter seiring dengan peningkatan keterampilan. Kemampuan akademik dan keterampilan praktis, menurut dia, akan lebih bermakna apabila disertai karakter yang baik dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Harapannya, semua keterampilan yang dimiliki mahasiswa dapat dibungkus dengan karakter yang baik. Dengan begitu, kemampuan yang dimiliki benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui PKKMB 2026, Cantika berharap mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
Ia berharap dari lingkungan kampus tersebut lahir gagasan-gagasan baru yang dapat ikut menggerakkan perekonomian daerah.
“Mudah-mudahan dari mahasiswa hari ini akan lahir ide-ide kreatif yang menjadikan Bojonegoro semakin kreatif, inovatif, dan berdaya,” katanya.
Selain Cantika Wahono, PKKMB IKIP PGRI Bojonegoro juga menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Bojonegoro Ardhian Orianto. Ia menyampaikan materi mengenai pentingnya menjadi generasi inovatif dan adaptif di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Narasumber lainnya, Ima Isnaiani, membahas perubahan dan tantangan perguruan tinggi di tengah perkembangan era digital. (KOM/RED)