BOJONEGORO, Linknews.id – Di balik ketegapan sikap seorang calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026, terdapat proses panjang pembentukan karakter yang ditempa dalam lingkungan disiplin tinggi. Reihan Nifan Arkana, siswa kelas XI-1 SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur, membuktikan bahwa pendidikan berbasis asrama mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara fisik, tetapi juga memiliki integritas dan semangat kebangsaan yang kuat.
Putra pertama pasangan Irfan Susanto dan Nikenoraya Astasagita ini lahir di Kediri pada 30 Mei 2010 dan menghabiskan masa kecil hingga SMP di Jember. Kini, ia menjadi bagian dari keluarga besar Bojonegoro melalui sekolahnya. Kehidupan di kesatrian SMAN 2 Taruna Pamong Praja, dengan rutinitas yang menyerupai taruna militer, telah membentuk mental tangguh dan pantang menyerah—kualitas yang menjadi modal utamanya saat lolos seleksi ketat Paskibraka Nasional mewakili Jawa Timur.
"Menjadi Paskibraka Nasional adalah kehormatan besar. Saya bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan ini, dan berharap pencapaian ini menjadi awal untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi bangsa," ujar Reihan.
Perjalanan menuju tingkat nasional menuntut kesiapan fisik, mental, dan akademik yang prima. Momen paling berkesan baginya terjadi saat verifikasi di tingkat pusat, di mana ia bertemu dengan peserta dari Aceh hingga Papua. Interaksi lintas budaya ini memperluas wawasannya tentang keberagaman Indonesia sekaligus memperkuat rasa persatuan.
Di luar latihan baris-berbaris, Reihan menjaga kebugaran tubuhnya melalui hobi bola basket yang telah ditekuninya sejak SMP bersama Klub Garuda Jember. Ia juga menguasai keterampilan stick master, yang bahkan sempat ditampilkan dalam tes minat dan bakat saat verifikasi nasional. Kemampuan ini menunjukkan bahwa seorang Paskibraka tidak hanya dituntut disiplin, tetapi juga kreatif dan adaptif.
Menjelang pelaksanaan tugas nasional, Reihan menjalani regimen latihan fisik rutin setiap pagi dan sore, serta menerapkan pola makan bergizi untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima. Bagi siswa yang gemar berjalan-jalan dan menikmati kuliner ini, mengibarkan Sang Saka Merah Putih bukan sekadar ritual seremonial, melainkan amanah untuk menampilkan karakter generasi muda Indonesia yang berintegritas.
Prestasi Reihan menjadi bukti nyata bahwa sistem pendidikan yang mengintegrasikan akademis dan pembentukan karakter dapat menghasilkan lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional. Keberhasilannya diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar lain di Bojonegoro untuk berani bermimpi dan berjuang meraihnya melalui kerja keras dan disiplin. (KOM/RED)