BOJONEGORO, LINKNEWS.ID - Lagi-lagi, sorotan publik mengarah pada polemik proyek Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) yang ada di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro.
Setelah ramai menjadi perbincangan soal dampak lingkungan hingga masyarakat harus turun tangan membuat jalur (jalan) alternatif, kini publik kembali meyoal terkait teknis pekerjaan.
Bukan sekadar masalah estetika, pengerjaan proyek ini dinilai mengabaikan standar baku infrastruktur. Jika dibiarkan, jalan ini diprediksi hanya akan menjadi "proyek umur jagung"—sebuah pemborosan anggaran yang tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Tiga Temuan Fatal: Kegagalan Infrastruktur
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, ditemukan tiga cacat teknis krusial yang mengindikasikan pengabaian serius terhadap standar keamanan dan ketahanan:
1. Wiremesh dan Dowel Tanpa Pengait (Melayang di Udara)
Sistem pengikat antar-segmen beton yang seharusnya menjadi "tulang punggung" struktur ditemukan tidak terpasang sesuai prosedur. Besi wiremesh dibiarkan lepas tanpa kaitan pada dowel. Secara mekanika, ini adalah resep bencana; tanpa pengikatan presisi, struktur beton akan mudah bergeser (dislokasi) dan amblas saat menahan beban kendaraan berat.
2. Sabotase Fungsi Ekspansi Beton
Pemasangan dowel ditemukan tanpa pelapis pelindung (paralon atau grease). Padahal, pelapis ini berfungsi agar beton dapat memuai dan menyusut secara fleksibel mengikuti perubahan suhu. Tanpa ruang gerak ini, beton akan terkunci statis, memicu keretakan masif (crack) pada plat beton dalam waktu singkat.
3. Pondasi Stros yang Tidak Sesuai Juknis
Pilar penyangga atau besi stros diduga tidak ditanam sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis). Jika fondasi dasarnya saja sudah cacat, maka daya dukung tanah terhadap beban jalan hanyalah ilusi semata.
Kesaksian Warga: "Masyarakat yang Paling Dirugikan"
Keresahan warga kian memuncak saat melihat proses pengerjaan yang terkesan asal-asalan. Salah seorang warga Desa Mori mengungkapkan kekecewaannya saat menyaksikan langsung proses pengecoran di lokasi.
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, besi wiremesh tidak diikat ke dowel. Kalau cara kerjanya seperti ini, infrastruktur yang seharusnya bertahan bertahun-tahun bisa hancur dalam hitungan bulan. Yang rugi kami, rakyat kecil," ujarnya dengan nada getir, Senin (5/1/2026).
Indikasi dugaan Korupsi dan Pengurangan Mutu
Penyimpangan spesifikasi teknis yang kasat mata ini memicu kecurigaan besar. Publik mempertanyakan apakah ini murni kelalaian teknis atau upaya sengaja untuk mengurangi volume material demi keuntungan sepihak.
Pengabaian Juknis dalam proyek yang menggunakan uang negara bukan hanya masalah kelalaian, melainkan indikasi kuat adanya tindak pidana korupsi yang mengorbankan keselamatan publik.
Desakan Audit Total: Ujian Keberanian Inspektorat
Sebelum beton mengeras dan menutupi bukti-bukti penyimpangan di bawahnya, warga mendesak dinas terkait dan Inspektorat Kabupaten Bojonegoro untuk segera turun ke lapangan melakukan audit fisik secara menyeluruh.
Masyarakat kini menanti ketegasan pihak berwenang: Apakah Inspektorat berani membongkar praktik curang ini, atau justru membiarkan uang rakyat menguap demi infrastruktur berkualitas rendah yang membahayakan nyawa. (List)
Reporter : TIM/RED