Home Pemerintahan

Hadiri Seminar STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Ini Yang Disampaikan Wabup Nurul Azizah

by linknews.id - 30 Juni 2026, 13:44 WIB

BOJONEGORO, Linknews.id – Peringatan Milad ke-40 STIT Muhammadiyah Bojonegoro melalui Seminar Nasional bertema "Rekonstruksi Pendidikan Berbasis Masyarakat" bukan sekadar refleksi historis lembaga, melainkan momentum untuk mengevaluasi efektivitas kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan tinggi, dan masyarakat sipil dalam menghadapi tantangan pembangunan sumber daya manusia. 

Kehadiran Wakil Bupati Nurul Azizah menegaskan bahwa penguatan kualitas pendidikan tidak dapat lagi ditopang oleh pendekatan sektoral semata, melainkan memerlukan integrasi kebijakan yang terukur dan berkelanjutan.

Komitmen Pemkab Bojonegoro yang mengalokasikan lebih dari Rp40 miliar untuk beasiswa mulai dari program "10 Sarjana 1 Desa", Beasiswa Scienties, hingga dukungan tugas akhir merupakan intervensi fiskal yang signifikan. Namun, besaran anggaran harus dibarengi dengan mekanisme monitoring dampak yang ketat agar tidak berhenti pada indikator output (jumlah penerima), tetapi benar-benar menghasilkan outcome berupa peningkatan kompetensi lulusan dan penyerapan tenaga kerja lokal. 

Wakil Bupati menekankan bahwa keberhasilan pendidikan adalah proses kumulatif; tanpa sinergi operasional antara Dinas Pendidikan dan perguruan tinggi, alokasi dana berisiko menjadi subsidi pasif yang tidak mentransformasi struktur sosial ekonomi daerah.

Di sisi lain, peringatan Ketua PD Muhammadiyah Suwito tentang urgensi adaptasi teknologi digital dan AI dalam pembelajaran menyoroti kesenjangan yang masih lebar antara kurikulum formal dan kebutuhan masa depan. Rekonstruksi pendidikan berbasis masyarakat yang digaungkan dalam seminar ini harus diterjemahkan ke dalam perubahan pedagogis yang konkret: bagaimana lembaga seperti STIT Muhammadiyah mengintegrasikan literasi AI tanpa mengorbankan penanaman nilai kejujuran dan karakter religius? Tantangan terbesar bukan pada ketersediaan alat, melainkan pada kapasitas pendidik dan kemauan institusi untuk melakukan transformasi budaya belajar secara fundamental.

Rencana STIT Muhammadiyah untuk meluncurkan inkubator wirausaha sebagai bagian dari strategi pencetakan generasi produktif menunjukkan kesadaran akan perlunya diversifikasi jalur kesuksesan pasca-kuliah. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, pendidikan tinggi Islam tidak boleh hanya berfungsi sebagai pabrik ijazah, tetapi harus menjadi ekosistem inovasi yang melahirkan solusi bagi masalah lokal. 

Kolaborasi yang terbangun hari ini harus dievaluasi secara berkala: apakah sinergi anggaran, kurikulum, dan pemberdayaan masyarakat benar-benar menghasilkan lompatan kualitas SDM Bojonegoro, atau sekadar rutinitas seremonial yang kehilangan relevansi dengan dinamika zaman. (KOM/RED)

Share :

Popular Post