BOJONEGORO, Linknews.id – Di tengah gempuran arus informasi digital yang masif namun rentan terhadap hoaks, intoleransi, dan radikalisme, Kodim 0813 Bojonegoro mengambil langkah preventif melalui Pembinaan Teritorial (Binter). Sebanyak 75 peserta, terdiri dari 60 siswa SMA/SMK/MA dan 15 personel TNI, mengikuti Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) Korp Kadet Republik Indonesia (KKRI) di Dusun Grogolan, Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Jumat-Sabtu (26-27/6/2026). Kegiatan ini bukan sekadar latihan fisik, melainkan upaya sistematis membangun tameng ideologi bagi calon pemimpin masa depan.
Komandan Kodim 0813 Bojonegoro Letkol Inf Dedy Dwi Wijayanto menegaskan bahwa dinamika nasional saat ini menuntut kewaspadaan ekstra. Teknologi informasi, meski menjadi katalisator pembangunan sesuai visi Asta Cita Presiden 2024-2029, juga membuka celah kerawanan sosial berupa penyebaran ujaran kebencian dan paham separatisme yang berpotensi menggerus persatuan bangsa.
"Kami hadir untuk memastikan generasi muda memiliki filter mental yang kuat. Nasionalisme dan patriotisme bukan lagi slogan, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya saat membuka acara melalui penyematan tanda peserta.
Program KKRI dirancang selaras dengan prioritas pemantapan sistem pertahanan negara dan pengokohan Pancasila. Melalui pendekatan kemanunggalan TNI-rakyat, kegiatan ini bertujuan mewujudkan Ruang, Alat, dan Kondisi (RAK) Juang yang tangguh. Peserta tidak hanya dilatih disiplin dan kepemimpinan, tetapi juga dibekali pemahaman kritis untuk menangkal narasi-narasi destruktif yang beredar di ruang digital.
Dandim Dedy menekankan bahwa generasi muda adalah aset strategis yang akan menentukan arah Indonesia. Pembinaan karakter sejak dini menjadi kunci untuk melahirkan individu berintegritas yang mampu menghadapi kompleksitas global.
"Harapannya, ilmu dan pengalaman dari Persami ini diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Keamanan dan keselamatan selama kegiatan adalah prioritas utama agar proses pembentukan karakter berjalan optimal," tutupnya.
Dengan melibatkan langsung pelajar dari berbagai latar belakang sekolah, Kodim Bojonegoro mengirimkan sinyal bahwa pertahanan negara bukan hanya urusan militer, tetapi tanggung jawab kolektif yang dimulai dari ketahanan mental setiap warga. Keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana peserta mampu menjadi agen perubahan yang menjaga kohesi sosial di komunitas masing-masing. (ADMC/RED)