Home Daerah

Ngangsu Kawruh Samin: Merawat Warisan Leluhur di Ambang Pengakuan UNESCO Global Geopark

by linknews.id - 20 Juni 2026, 20:59 WIB

BOJONEGORO, Linknews.id – Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus identitas lokal, Bojonegoro menegaskan komitmennya untuk merawat warisan budaya Samin bukan hanya sebagai memori kolektif, tetapi sebagai fondasi ketahanan sosial dan diplomasi budaya. Hal ini termanifestasi dalam acara Ngangsu Kawruh Samin yang digelar di Balai Budaya Samin, Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Sabtu (20/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian 1 Dekade Samin Festival #10 tahun 2026 dengan tema “Sabare Dieling-eling, Trokale Dikuati” (Saling Mengingat, Saling Menguatkan).

Acara yang dihadiri akademisi, pegiat budaya, dan generasi penerus Sedulur Sikep ini berlangsung tepat pada momen krusial: Bojonegoro sedang dalam proses penilaian akhir sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark bersama Sumatera Barat. Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro Lukiswati mengungkapkan bahwa aspek budaya Samin menjadi salah satu pilar utama dalam evaluasi tim penilai internasional dari Jerman dan Tiongkok yang dijadwalkan berkunjung.

“Kunjungan tim UNESCO ini adalah momentum emas. Kami berharap dapat memperkenalkan filosofi Samin secara lebih luas sekaligus mengangkat citra Bojonegoro sebagai daerah yang kaya akan kearifan lokal,” ujar Lukiswati. Ia menambahkan bahwa setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2019, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kini mengusulkan tradisi Gumbregan untuk mendapatkan pengakuan WBTB tingkat nasional pada 2026, sebagai bukti keberlanjutan upaya pelestarian.

Filosofi Tanpa Kekerasan yang Relevan di Era Modern

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Provinsi Jawa Timur Sadari menekankan bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan strategi kelangsungannya. Menurutnya, Ngangsu Kawruh mengingatkan publik bahwa setiap elemen budaya memiliki rasionalitas dan strategi adaptasi yang melatarbelakanginya.

Relevansi tersebut dijelaskan langsung oleh Bambang Sutrisno, generasi kelima Samin Surosentiko. Ia menegaskan bahwa meski infrastruktur fisik telah berubah—dari jalan tanah menjadi beton dan paving block sejak 2024—nilai inti ajaran Samin tetap tak tergoyahkan. Pesan terakhir Samin Surosentiko tentang kemerdekaan yang terwujud ketika pemimpin dan rakyat hidup dalam tatanan aturan yang adil, serta prinsip perlawanan tanpa kekerasan melalui keteguhan sikap, masih menjadi panduan hidup masyarakat Sedulur Sikep hingga hari ini.

“Ajaran Samin mengajarkan kita untuk tidak membeda-bedakan dan mempertahankan kebenaran dengan cara damai. Inilah esensi ‘Sedulur Sikep’ yang sesungguhnya,” jelas Sutrisno.

Pertemuan lintas generasi dan disiplin ilmu ini, yang juga dihadiri Dr. Sugeng Wardoyo (penemu motif Obor Sewu), Prof. Catur Suratno (UPN Veteran Jatim), dan Dr. Wuryanto (Universitas PGRI Madiun), membuktikan bahwa budaya Samin bukan artefak masa lalu. Melalui pendekatan akademik dan partisipasi komunitas, Bojonegoro berupaya mentransformasikan warisan leluhur menjadi modal sosial yang tangguh, siap menghadapi penilaian global sekaligus menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. (KOM/RED)

Share :

Popular Post