Foto : Sumur Tua Wonocolo (dok.ist)
BOJONEGORO, LINKNEWS.ID – Fenomena pembelian minyak mentah oleh pengepul di kawasan sumur tua Wonocolo kembali menjadi sorotan. Salah satu faktor utama yang membuat para penambang enggan menjual ke jalur resmi adalah perbedaan harga yang cukup signifikan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, pengepul berani memborong hasil tambang dengan harga berkisar Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per liter. Angka ini jauh lebih menggiurkan dibandingkan jalur resmi yang hanya menawarkan selisih lebih rendah sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per liter.
Seorang penambang di lokasi sumur Dandangilo yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama.
“Kalau selisihnya sampai Rp 2.000 per liter, jelas penambang lebih memilih ke pengepul,” ujarnya.
Minyak yang dibeli tersebut selanjutnya diolah melalui proses penyulingan tradisional di tempat-tempat yang dikenal sebagai "pawonan". Biaya jasa pengolahan ini berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 150.000 per drum.
Setelah menjadi bahan bakar jenis solar, minyak tersebut ditampung di pangkalan sebelum didistribusikan menggunakan truk tangki berkapasitas besar. Dalam sehari, diperkirakan ada sekitar 15 hingga 18 truk tangki yang lalu-lalang mengangkut hasil olahan tersebut.
“Hampir tiap hari ada belasan tangki keluar masuk bawa solar,” kata seorang warga sekitar.
Solar ilegal ini kemudian dijual kembali dengan harga sekitar Rp 8.400 per liter. Diduga, pasokan ini didistribusikan hingga ke luar daerah seperti Semarang, Rembang, Yogyakarta, hingga Surabaya untuk memenuhi kebutuhan industri dan sektor kelautan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meski pengepul membeli bahan baku dengan harga lebih tinggi, margin keuntungan masih sangat besar pada tahap penjualan berikutnya. Sayangnya, skema resmi yang dikelola BUMD hingga saat ini dinilai belum mampu menyaingi daya tawar harga dari jaringan ilegal tersebut, sehingga minyak daerah masih banyak yang mengalir ke jalur gelap. (TIM/RED)