Anggota Dewan Pendidikan Sholikin Jamik
BOJONEGORO, LINKNEWS.id - Kasus dugaan kekerasan seksual berbasis digital yang melibatkan peserta didik menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Bojonegoro.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya edukasi etika digital dan pengawasan dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Sholikin Jamik, mengapresiasi respons cepat dari pihak terkait dalam menangani laporan tersebut.
"Tindakan tegas merupakan bentuk pertanggungjawaban moral yang sangat diperlukan," ucapnya Rabu (14/10/26).
Dirinya juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan rasa tanggung jawab. Jika tidak, kasus serupa berpotensi terulang kembali di masa depan.
"Pencegahan kekerasan digital tidak bisa hanya mengandalkan imbauan semata, jika kasus sejenis kembali terjadi, penegakan hukum yang ketat harus diterapkan di samping sanksi moral dan administratif," ujarnya.
Menurutnya, langkah ini penting untuk memberikan efek jera sekaligus melindungi ruang digital anak. Untuk itu, sekolah, orang tua, dan masyarakat diharapkan bekerja sama lebih erat.
"Kolaborasi ini dibutuhkan guna memperkuat pendidikan karakter dan mengawasi aktivitas digital anak secara bertanggung jawab," tuturnya.
Di sisi lain, Sholikin menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah memberikan pendampingan psikologis bagi siswa yang terdampak. Proses pemulihan harus mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan kesehatan mental anak.
"Sesuai aturan perlindungan anak dan kode etik jurnalistik, semua pihak juga diimbau untuk menjaga kerahasiaan identitas anak dan lembaga pendidikannya. Hal ini penting demi mencegah stigma sosial dan melindungi masa depan peserta didik," tuturnya.
"Kasus ini harus menjadi momentum bersama untuk memperkuat literasi digital di sekolah. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bermartabat bagi seluruh siswa," imbuhnya.(AS)