BOJONEGORO, Linknews.id – Untuk pertama kalinya dalam skala besar, masyarakat Desa Kedewan, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, menggelar tradisi Sedekah Bumi di Punden Kedung Rupit, Minggu (7/6/2026).
Ratusan warga berkumpul membawa tumpeng dan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur, menandai kebangkitan kembali ritual leluhur yang dinilai strategis untuk memperkuat kohesi sosial di tengah arus modernisasi.
Acara yang berlangsung khidmat ini mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan pemerintah setempat. Mereka menilai revitalisasi tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya konkret merawat "modal sosial" berupa gotong royong dan persaudaraan yang kian terkikis oleh individualisme.
Modal Sosial di Era Modern
Tokoh masyarakat Bojonegoro sekaligus Ketua LSM Angling Dharma, M. Nasir, hadir memberikan dukungan penuh. Menurutnya, Sedekah Bumi adalah warisan budaya luhur yang mengandung nilai filosofis mendalam: rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap leluhur, dan solidaritas antarwarga.
"Sedekah Bumi adalah warisan budaya leluhur yang harus dijaga bersama. Ketika masyarakat bisa berkumpul, berdoa, dan bergotong royong tanpa memandang sekat perbedaan, itu menjadi modal sosial yang sangat besar untuk membangun desa yang harmonis," ujar Nasir.
Nasir berharap tradisi ini tidak berhenti pada ritual tahunan, tetapi bertransformasi menjadi gerakan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan dan melestarikan identitas budaya secara berkelanjutan.
Peran Birokrasi dalam Pelestarian Budaya
Apresiasi serupa datang dari Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kedewan, Iwan Kristian. Sebagai seorang penggiat budaya Jawa, Iwan menekankan pentingnya menjaga jati diri di tengah perubahan zaman. Ia mengutip pepatah Jawa, "Wong Jowo ojo lali marang Jowone" (Orang Jawa jangan lupa ke-Jawa-annya), untuk menegaskan bahwa budaya adalah fondasi karakter masyarakat.
"Sebagai wong Jowo, kita jangan sampai melupakan budaya dan jati diri sendiri. Tradisi Sedekah Bumi adalah bentuk penghormatan kepada warisan leluhur yang mengajarkan rasa syukur dan kepedulian sosial," kata Iwan.
Iwan menambahkan, pelestarian budaya lokal harus terus didorong karena berfungsi sebagai perekat sosial. Ketika budaya dirawat dengan baik, karakter masyarakat akan tetap kuat dan tahan terhadap disintegrasi sosial.
Momen Bersejarah bagi Desa Kedewan
Kepala Desa Kedewan, Sumiati, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya pelaksanaan acara perdana ini. Dalam hampir 14 tahun masa kepemimpinannya, ini merupakan pertama kalinya Sedekah Bumi dapat diwujudkan secara meriah dengan dukungan penuh seluruh elemen masyarakat.
"Selama hampir 14 tahun memimpin desa, baru kali ini Sedekah Bumi dapat diwujudkan dengan dukungan penuh seluruh elemen masyarakat. Ini menjadi simbol persatuan kami dalam menjaga warisan leluhur," ungkap Sumiati.
Kegiatan di Punden Kedung Rupit tersebut diharapkan menjadi tonggak baru bagi masyarakat Kedewan untuk terus melestarikan tradisi lokal. Dengan menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan budaya, Sedekah Bumi diyakini mampu menjadi agenda tahunan yang membanggakan dan memperkuat identitas desa di kancah yang lebih luas. (TIM)